Menakar Kebijakan dan Konservasi Lingkungan: Kelas Eurasia Dorong Komitmen Politik untuk Kesejahteraan Berkelanjutan
Pangkalpinang, 8 Oktober 2026 —Kelas Eurasia kembali menghadirkan ruang pembelajaran dan diskusi mengenai isu-isu global melalui kegiatan bertajuk “Environment Mitigation and Conservation: Preserving Earth for Sustainable and Inclusive Prosperity” dengan menghadirkan Budi Setiawan sebagai narasumber. Kegiatan ini mengangkat pentingnya mitigasi dan konservasi lingkungan dalam menjaga keberlanjutan bumi sekaligus mendorong terciptanya kesejahteraan yang inklusif bagi masyarakat.
Budi Setiawan merupakan pendiri sekaligus Direktur Tarsius Center Indonesia, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang konservasi dan lingkungan hidup. Ia juga menjabat sebagai Wakil Presiden Perkumpulan Telapak Indonesia periode 2026-2030, sebuah organisasi yang berfokus pada konservasi lingkungan, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat lokal dan adat. Pengalamannya dalam isu lingkungan sejak 1997 serta keterlibatannya dalam berbagai forum internasional menjadikan Budi Setiawan memiliki perspektif yang luas mengenai tantangan dan upaya pelestarian lingkungan.
Dalam pemaparannya, Budi Setiawan menyoroti berbagai persoalan yang menjadi ancaman bagi keberlanjutan lingkungan, khususnya pembalakan liar (illegal logging), pertambangan ilegal (illegal mining), dan korupsi sumber daya alam. Ia juga menekankan bahwa kerusakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari perilaku perusahaan yang tidak bertanggung jawab, keterlibatan oknum, serta kebijakan dan keputusan politik yang kurang tepat. Berbagai persoalan tersebut membutuhkan perhatian serius dan upaya penanganan yang melibatkan berbagai pihak. Melalui pendekatan yang komunikatif, narasumber mengibaratkan tantangan lingkungan seperti kendaraan yang melaju menuju jurang. Analogi tersebut menggambarkan pentingnya kemampuan untuk mengenali risiko, mengendalikan arah, dan mengurangi dampak sebelum kerusakan semakin parah. Pesan ini menegaskan bahwa upaya konservasi tidak cukup hanya dengan memahami persoalan, tetapi juga memerlukan keberanian, keterampilan, inovasi, serta langkah nyata untuk menemukan solusi.
Lebih lanjut, Budi Setiawan menjelaskan pentingnya membangun kapasitas dalam memahami isu global dan lokal, memanfaatkan teknologi, menyusun perencanaan program yang berkelanjutan, memperluas jejaring, serta mengembangkan inovasi dalam pendanaan dan pelaksanaan program. Perhatian terhadap kelompok masyarakat yang paling rentan juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
Kegiatan Kelas Eurasia berlangsung secara interaktif dan mendapat antusiasme dari para mahasiswa. Hal ini terlihat melalui keterlibatan peserta dalam diskusi dan sesi tanya jawab bersama narasumber. Para mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, mengemukakan pandangan, serta mendiskusikan berbagai tantangan lingkungan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Interaksi tersebut turut menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis dan mendorong peserta untuk berpikir kritis terhadap persoalan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Kelas Eurasia diharapkan dapat memperluas wawasan peserta mengenai keterkaitan antara isu lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, kebijakan, dan pembangunan berkelanjutan. Pemahaman tersebut penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi aktif, kolaborasi, dan komitmen jangka panjang. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya pendidikan sebagai ruang untuk membangun kepedulian terhadap isu-isu global, termasuk tantangan konservasi lingkungan. Dengan memahami persoalan dan mengembangkan kapasitas untuk meresponsnya, generasi muda diharapkan mampu berkontribusi dalam menjaga bumi serta mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan, adil, dan inklusif bagi seluruh masyarakat.