Strategi Pertumbuhan Ekonomi Korsel Jadi Sorotan Utama Kuliah Tamu FISIP UBB

25 Sep 2026 3
Strategi Pertumbuhan Ekonomi Korsel Jadi Sorotan Utama Kuliah Tamu FISIP UBB

Pangkalpinang, 24 September 2026 - Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Bangka Belitung (UBB), menghadirkan Prof. Kim Soo-il, pendiri sekaligus Chairman Busan Indonesian Center, sebagai narasumber tamu pada sesi kelima mata kuliah Eurasia dan Dinamika Politik Global. Kuliah tamu ini mengangkat tema "Korea Experience of Compressed Economic Growth and Prospect for Economic Cooperation Between Korea and Indonesia" dan dihadiri antusias oleh mahasiswa Ilmu Politik dan Hubungan Internasional UBB. 

Prof. Kim, yang juga Professor Emeritus di Busan University of Foreign Studies dan pernah menjabat Honorary Consul General of the Republic of Indonesia di Busan (1993-2013), memaparkan kunci keberhasilan Korea Selatan bangkit dari keterpurukan pasca Perang Korea (1905-1953). Ia menyoroti peran kebijakan Five-Year Economic Development Plan era Presiden Park Chung Hee yang berlangsung dalam tiga periode (1962-1966, 1967-1971, 1972-1976) sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang cepat, didukung oleh kepatuhan masyarakat dan pelaku usaha terhadap target pembangunan nasional. 

Prof. Kim menceritakan bahwa kunci kesuksesannya terletak pada cara berpikir sebagai seorang social scientist, yaitu kemampuan mengidentifikasi masalah secara rasional dan sistematis, disertai perencanaan hidup yang matang, daya juang yang tinggi, serta konsistensi. Ia mengenang masa mudanya yang penuh keterbatasan ekonomi, ketika ia hanya mampu makan sekali sehari dengan menu nasi dan rebusan sayur. Semangat tersebut yang mendorongnya untuk fokus menekuni studi bahasa Melayu-Indonesia di Busan Foreign Studies University, hingga karier akademiknya membawanya dipercaya sebagai penasihat Menteri Luar Negeri Korea Selatan dan kemudian ditunjuk sebagai Duta Besar Korea Selatan untuk Timor Leste periode 2007-2009. Pesan ini disampaikan kepada mahasiswa untuk membangun kesadaran akan pentingnya pola pikir rasional dan sistematis ala social scientist, disertai perencanaan matang, daya juang, dan konsistensi, meskipun berangkat dari keterbatasan ekonomi sekalipun.

Kepada mahasiswa, Prof. Kim berpesan agar tidak hanya menguasai satu bidang keilmuan. Ia mendorong mahasiswa untuk menguasai bidang utama keilmuannya sekaligus membangun kepakaran khusus, yang didukung kemampuan bahasa Inggris dan literasi kecerdasan buatan (AI) yang mumpuni. Menurutnya, kombinasi keempat kompetensi tersebut akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan abad mendatang yang semakin kompetitif dan berbasis teknologi. 

Sesi tanya jawab yang mengakhiri kuliah tamu ini didominasi pertanyaan mahasiswa mengenai pengalaman Korea Selatan membangun negara dan pelajaran yang dapat diterapkan bagi kemajuan Indonesia.