Bagaimana Etnis Bangka Terbentuk? Kelas Internasional UBB Bedah Jejak Migrasi Semenanjung Malaka
Balunijuk, UBB— Program Studi Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) tahun ini kembali melangsungkan kelas internasional. Program kelas internasional ini merupakan kolaborasi dengan Eurasia Foundation yang rutin dilaksanakan setiap tahun di semester gasal. Kelas internasional tahun ini mengusung tema utama “Bridging Mutual Interests: Discovering a Harmonic Prosperity in the Eurasia Community”.
Pada Kamis kemarin (03/09/2026), telah dilangsungkan sesi ke-2 dengan menghadirkan narasumber seorang sejarawan sekaligus budayawan terkenal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yakni Dato’ Drs. Akhmad Elvian, DPMP, CECH., yang dimoderatori oleh Herza, S.Sos., M.A. (Dosen Sosiologi UBB).
Dato’ Akhmad Elvian selaku narasumber pada sesi ini fokus berbicara tentang migrasi yang pernah terjadi di wilayah Semenanjung Malaka dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan antaretnis kala itu hingga saat ini. Tentu, Kepulauan Bangka Belitung sebagai wilayah yang menjadi jembatan bagi berbagai etnis dan kepentingan bangsa-bangsa di Semenanjung Malaka menjadi concern dari diskusi Dato’ Akhmad Elvian dengan para peserta kelas internasional, yang notabene merupakan mahasiswa Prodi Ilmu Politik semester 3.
Beliau membuka sesi inti kelas internasional ini dengan menguraikan jenis migrasi yang pernah terjadi, yakni ada yang disebut sebagai migrasi jangka pendek dan ada yang beliau sebut sebagai migrasi jangka panjang. Dua jenis migrasi ini, menurut Dato’ Akhmad Elvian, masing-masing memiliki pengaruh terhadap konteks sosial budaya maupun sosial politik masyarakat ketika itu, bahkan hingga saat ini.
Dari momen migrasi jangka pendek, beliau menyebut di Bangka Belitung pernah menerima migrasi para bajak laut yang kemudian menyebabkan pembentukan corak perkampungan yang dikelilingi benteng dan parit-parit, serta rumah pemimpin diposisikan di tengah dalam format bujur sangkar. Beliau menegaskan bahwa kedatangan beberapa etnis dalam migrasi jangka pendek ke Pulau Bangka dulunya didorong oleh kepentingan ekonomi dan politik.
Pada pembahasan migrasi jangka panjang, beliau fokus membahas bagaimana datangnya orang-orang yang disebut sebagai orang yang berbahasa Austronesia yang datang dari wilayah Asia Timur bagian Selatan sekitar tahun 1500-500 SM. Inilah nenek moyang atau penduduk awal pribumi di Pulau Bangka dan Belitung.
Dato’ Akhmad Elvian menyebutnya sebagai Deutro Melayu (Melayu Muda). Mereka yang bermigrasi ini kemudian yang hidup dengan sebagiannya menyebar di wilayah darat dan gunong, serta yang lainnya di wilayah pesisir atau laut. Inilah cikal bakal terbentuknya komunitas masyarakat “Orang Darat” dan “Orang Laut” di Pulau Bangka dan Belitung.
“Bangsa Deutro Melayu memiliki peradaban yang maju dalam bidang astronomi, pelayaran dan bercocok tanam serta tekhnologi perundagian. Pada masa ini sudah dikenal teknik peleburan, percampuran, penempaan dan pencetakan jenis-jenis logam seperti tembaga, timah, perunggu, besi dan bahkan emas,” ucap Dato’ Akhmad Elvian saat menyampaikan materi di Ruang Akustik Gedung Timah 1 Kampus UBB (03/09/2026).
Selanjutnya, beliau juga menceritakan bagaimana gelombang migrasi orang-orang Tionghoa ke Indonesia dan Bangka Belitung yang terjadi melalui berbagai gelombang. Penekanan beliau adalah bagaimana kedatangan etnis Tionghoa ke Bangka Belitung utamanya terkait dengan kepentingan rezim yang berkuasa saat itu untuk mengeksplorasi timah. Selain itu, Dato’ Akhmad Elvian menyebutkan bahwa orang Tionghoa yang datang ke Bangka Belitung tidak semuanya langsung datang dari Tiongkok.
“Orang-orang Tionghoa datang ke Pulau Bangka dan Belitung melalui fase migrasi yang berlipat atau banyak gelombang, dan tidak semua gelombang migrasi ini mendatangkan penduduk Tionghoa yang langsung dari negeri Tiongkok. Misalnya, di gelombang 1 dan 2 mereka datang dari wilayah perantauan lainnya yang berada di seputaran Semenanjung Malaka,” ucap Dato’ Akhmad Elvian (03/09/2026).
Terakhir, migrasi yang cukup besar pengaruhnya ke Pulau Bangka adalah migrasi orang-orang Melayu kerabat dari Sultan yang memimpin Negeri Johor serta yang berasal dari wilayah Palembang. Mereka bermukim di wilayah barat, utara, tengah, dan selatan Pulau Bangka.
Sesi kedua kelas internasional ini diikuti dengan antusias oleh para peserta. Hal ini terlihat dari banyaknya mahasiswa yang penasaran dan mengajukan pertanyaan kepada narasumber. Beberapa peserta bertanya mengenai ketersebaran dan peninggalan artefak orang-orang Jepang dan Eropa yang pernah hidup di Bangka. Ada pula yang bertanya terkait perlakuan rezim pemerintahan masa itu terhadap warga lokal dan mereka yang berasal dari etnis yang sama dengan pemimpin rezim kala itu.