Dr. Ibrahim, M.Si.

FISIP UBB TUAN RUMAH FORUM DEKAN FISIP/FISIPOL/FIS PTN SE-INDONESIA

 

FISIP Universitas Bangka Belitung menjadi tuan rumah Forum Dekan FISIP/FISIPO/FIS PTN se-Indonesia. Kegiatan ini dihadiri oleh 85 delegasi dekan/wakil dekan serta pejabat struktural dari seluruh Indonesia, mulai dari Universitas Syah Kuala Banda Aceh hingga Univeritas Cenrawasih Papua. Rangkaian kegiatan forum dekan FISIP ini diawalai dengan acara pembukaan, seminar, city tour hingga penutupan. 

 Kegiatan pembukaan diselenggarakan di Hotel Soll Marina pada Jumat (2/9) dan dibuka oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung yang pada kesempatan ini diwakili oleh Sekda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dr. Yan Megawandi. Selain itu, acara pembukaan ini dihadiri oleh Menteri Sekretaris Negara RI, Prof. Pratikno, Rektor Universitas Bangka Belitung beserta jajarannya, para birokrat, tokoh masyarakat dan tokoh agama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Besoknya, acara diisi dengan seminar dan workshop dengan tema "Kontekstualisasi Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pluralisme". Yang menjadi narasumber pada kegiata seminar ini antara lain Prof. Zulkifli Hasan (UIN Rahmat Hidayatullah), Eko Prasojo (UI) dan Dr.Mulyadi. Dan yang menjadi keynote speaker seminar ini Prof. Pratikno. Pada kesempatan ini, Prof. Pratikno menjelaskan bahwa jika ingin belajar tentang pluralisme, maka belajarlah ke Indonesia. 

http://fisip.ubb.ac.id/?q=content/fisip-ubb-tuan-rumah-forum-dekan-fisip...

 

Ibrahim : Jangan Berorientasi pada Poin

    Rabu, 06 Desember 2017 | 13:23 WIB

Ibrahim, Dosen Politik Universitas Bangka Belitung. (fb./ibrahim.bintang.3)

 

WOWPANGKALPINANG -- Penghargaan yang diterima Provinsi Bangka Belitung terkait peningkatan nilai Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2016. Mendapat apresiasi dari Dosen Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) Ibrahim.

Menurut Ibrahim, peningkatan nilai IDI tersebut menunjukkan bahwa ada perbaikan atas kinerja demokrasi. Hal ini mengindikasikan bahwa semua elemen bekerja secara sinergis untuk meningkatkan angka capaian ini.

 

Bagaimanapun, kata Ibrahim, dimensi IDI sangat luas dan karenanya peningkatan ini adalah kinerja bersama.

"Ini menunjukkan bahwa ada perbaikan atas kinerja demokrasi, serta mengindikasikan semua elemen bekerja secara sinergis untuk meningkatkan angka capaian tersebut," ujar Ibrahim, saat dikonfirmasi wowbabel.com, Rabu (6/12/17).

Lebih lanjut, Ibrahim menuturkan jika penilaian IDI pada dasarnya simbolik. Akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana agar kondisi eksisting ini bisa terjelmakan dalam praktik keseharian.

"Tentu IDI adalah alat general check up, dia bukan instrumen vital karena dengan atau tanpa penilaian, demokrasi harus tetap diwujudkan menuju ke arah yang lebih baik," tutur alumni UGM ini.

Ibrahim memberikan pendapat, untuk di Babel sendiri, Ia melihat bahwa konten demokrasi sudah sangat baik. Diskriminasi dan konflik tidak tajam, meski ada 'kerikil-kerikil' yang harus dihadapi.

"Demokrasi di Babel sudah sangat baik. Saya kira warga Babel punya sejarah panjang dengan egalitarianisme," katanya.

Ibrahim berharap kedepan pemerintah daerah harus mengedepankan nilai - nilai demokrasi sebagai kerja bersama.

 

"Meski demikian, kita tidak boleh terlalu berorientasi pada poin raihan yang mengabaikan substansi. Kedepan kita harus fokus mengembangkan nilai-nilai demokrasi sebagai kinerja bersama. Meski demikian, kita tidak boleh terlalu berorientasi pada poin raihan yang mengabaikan substansi. Toh demokrasi yang ideal itu adalah terkonsolidasi dan equal," harapnya. 

http://www.wowbabel.com/2017/12/06/ibrahim-jangan-berorientasi-pada-poin...

 

Dosen Fisip UBB Bicara Politik Timah di Inggris

 

Ibrahim, Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB), menjadi salah satu pembicara dalam konferensi internasional di London Imperial College (LIC) yang berlokasi di South Kensington, London, Inggris. Konferensi ini bertajuk The 23rd International Conference on Social Science and Humanities yang selenggarakan oleh Global Research and Development Services (GRDS).

Acara ini berlangsung pada tanggal 11-12 September 2017 dan dihadiri oleh para pembicara dari berbagai negara dan beberapa pakar dari beberapa universitas terkemuka di Asia, Eropa dan Amerika. Utamanya, mereka adalah para ilmuwan di bidang sosial, politik dan humaniora.

Dengan mengangkat topik soal potret pengelolaan timah di Bangka Belitung, Ibrahim menyampaikan beberapa hal mendasar, diantaranya mengenai desain ekonomi politik komoditas timah di Indonesia yang dianggap kurang bijak, implikasi lingkungan dan sosial penambangan timah, sampai pada rendahnya perhatian komunitas internasional terhadap praktik pengelolaan yang saat ini sedang terjadi.

Cadangan timah yang besar dari Indonesia dan nyaris semuanya berasal dari gugusan Kepulauan Bangka Belitung , kata dia, harusnya dikelola secara utuh. Dalam paparannya, Ibrahim menyatakan bahwa praktik ekonomi politik dalam pengelolaan timah dilatari oleh kekuasaan yang cenderung kurang bervisi nasionalistik dan jangka panjang.

Menurutnya, modal selalu berpindah dari satu tempat kaya ke tempat kaya yang lain dan selalu biasanya meninggalkan kerusakan lingkungan dan sosial. Kondisi ini tercipta karena deregulasi yang tidak konsisten, dan diperkuat oleh pragmatisme dan shortenisme.

Paparan ini menjadi bagian dari riset multi tahun yang didanai oleh Kementerian Ristek dan Dikti oleh Ibrahim dan timnya, yaitu Dwi Haryadi dan Nanang Wahyudin. Partisipasi dalam konferensi internasional menurut Ibrahim menjadi sangat penting dalam rangka memperkuat kualitas publikasi dan mendorong meningkatnya pemanfaatan hasil riset oleh para pemangku kepentingan. Salah satu klausul penting yang disampaikan dalam paparan tersebut adalah soal pentingnya perhatian para user timah internasional terhadap konteks lokal. 

http://www.rakyatpos.com/dosen-fisip-ubb-bicara-politik-timah-di-inggris...